Senyum Kecil - Jalosi.net | Jalur Otoritas Informasi

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Rabu, 26 Februari 2020

Senyum Kecil



Selasa 1 Desember 2015
Bandar Lampung, Lampung, Indonesia


Senyum Kecil



###Cinta bukanlah hal yang sangat sulit di mengerti akan tetapi hubungan kasih asmara bisa terjalin dengan baik bila keduanya mampu memberikan rasa kenyamanan, saling percaya, setia, tidak menuntut sempurna, jika semua itu terbangun maka hubungan kisah kasih akan indah dirasakan, namun sebaliknya hubungan akan semakin rumit dan tidak dimengerti apa bila keduanya saling menuntut kesempurnaan.

Bahtera cinta kasih tidak lepas dari materi, akan tetapi patut di ketahui materi tidak dibutuhkan dalam sebuah hubungan, sebab cinta yang suci bukan lahir dari materi melainkan tumbuh dari hati nurani, namun materi akan dibutuhkan untuk memberikan warna dalam hubungan, jika hubungan dilandasi dengan materi niscaya hubungan itu tidak akan berlangsung bahagia justru akan menimbulkan rasa ketidaknyamanan diperparah lagi keretakan dan putusnya hubungan. Cinta tidak membutuhkan janji akan tetapi cinta membutuhkan pembuktian yang mendasar dan ikhlas, sebab cinta adalah karunia dari ilahi yang hadir dari hati, dan akan terwujud sebuah cinta suka sama suka bila perasaan insan menemukan seseorang untuk dijadikan tambatan hati, dari situlah kejujuran itu murni terlihat, oleh sebab itu jagalah cinta yang telah ada di dalam hati, jangan pernah permainkan rasa cinta jika tidak ingin merasakan sakit hati ###

-Senja di tepian kota Bandar Lampung, terlihat kelip lampu dan drum-drum jalanan berderang menghiasi keramaian jalan kota, sekitar pukul 17:05 wib, kemuning matahari telah sirna di upuk barat. Gontai tangan perlahan lesu, sebatang rokok terselip di jari, yang enggan di sulut. Sebut saja Bayu pandangan lepas menuju harapan, aktifitas yang telah di lakoninya seharian tampak membuat pucat wajahnya. Di penghujung trotoar pembatas jalan terlihat kedai Jus susu beragam jenis rasa buah segar tepatnya di sudut Lapangan Merah - Enggal, Bayu terus menatap dan mencari kursi yang kosong, terlihat dua buah kursi telah di tinggalkan pelanggan setia kedai susu aneka rasa buah, bergegas Bayu menuju kursi tersebut, setibanya ia di sana, dengan memetik jari isyarat memanggil pelayan kedai. Tidak menunggu lama pelayan datang, dan Bayu dengan senyum memesan segelas Susu dengan rasa Durian.

"Mas pesan Susu rasa Durian satu ya , "ujarnya sembari
menunjukan buku menu kepada pelayan. Dengan senyum si pelanyan menganggukan kepala tanda mengiyakan permintaan Bayu.
"Iya mas tunggu sebentar ya, "jawab pelayan singkat. Tidak terlalu lama, Jus Susu rasa Durian pun tiba, dengan santai si pelayan mempersilahkan untuk menikmati pesananya. Seruputan pertama dengan santai Bayu menikmatinya, lalu ia menyulut sebatang rokok yang sedari tadi ia pegangi. Kepulan asap mulai memadati wajahnya yang pucat terbakar oleh sengatan matahari, dengan wajah yang lusuh terlihat lelah begitu sempurna saat ia menghisap rokok, asap seakan di buai olehnya.

Waktu terus berlalu jarum jam menunjukan pukul 20:15 wib, sontak membuat Bayu terkejut kala melihat Arlojinya, "hah jam delapan lewat, "gumam Bayu dalam hati. Ia pun beranjak dari duduknya kemudian membayar bonnya kepada kasir. Dering telepon dari ponsel genggamnya berdenting, dengan sigap dirinya lalu merogoh kocek, di lihat panggilan masuk, panggilan tersebut dari seorang sahabat dekatnya yaitu  Aji, yang merupakan rekan kerja sekantor, percakapan singkat pun terjadi diantaranya.

"Bro dimana loe?, "tanya Aji singkat.
"Gua di Bandar Lampung, nah loe dimana?, "jawab Bayu  seraya berbalik tanya.
"Gua juga Bandar Lampung, gua mau main kerumah loe sekarang, "tukas Aji menerangkan.
"Ya sudah loe langsung ke rumah gua, soalnya gua lagi di jalan mau balik kerumah, "Bayu membalas percakapan. Komunikasi pun terputus, perjalanan sekitar 15 menit Bayu pun tiba di rumah, terlihat Aji telah menunggu dengan sabarnya, sapaan demi sapaanpun terlontar oleh kedua remaja tersebut saat berjumpa.

"Sudah dari tadi loe sampe?, "tanya Bayu ramah.
"Barusan aja kok, asli belum lama, "sahut Aji. Bayu pun melontarkan senyum di tengah remang, sembari membuka kunci pintu rumah. Setibanya di dalam rumah, suasana cengkrama pun tiada henti, keakraban keduanya memang telah terjalin sejak tahun 2012 lalu saat bersama-sama mengikuti rapat yang ditentukan oleh Management perusahaan.

Malam terus tergerus oleh waktu, kantuk kedua remaja itu pun mulai menggelayuti pelopak mata, yang akhirnya tanpa disadari, tertidur dengan pulas di atas alas tidur yang sangat sederhana.

Kokok ayam jantan mulai terdengar, menadakan pajar telah menampakan diri, rotasi bumi dan planet di dunia berputar, malam pun berganti siang, terlihat kedua remaja itu tampak menggeliat bangun dari tidurnya.

"Wah sudah siang dunia ini, "lirih Bayu sembari melihat sahabatnya, Aji pun tersenyum saat mendengar perkataan Bayu yang sayup-sayup.
"Mandi sono, "ujar Aji memerintah.
"Ntar ajalah, "sahut Bayu.

Seiring mentari menerobos jendela Bayu beranjak dari tidurnya, ia pun langsung menuju dapur lalu membuat kopi kesukaan Aji sahabatnya itu, sembari menunggu air mendidih Aji yang masih menikmati kantuk.

"Wiih baik banget ya temen gua satu ini, buatin kopi, hehehehe, ini baru temen gua best friend, "kelakar Aji santai.
"Nah dia nih, loe kan tamu kehormatan, jadi gak ada salahnya gua buatin kopi buat  Aji, "sahut Bayu berbalas.
"Hahahahaa, hemm, "tawa Aji.
"Hemmm.

Keduanya asyik bercengkerama, berselang beberapa menit kemudian, kopi pun tersaji, seruput demi seruput terdengar, sengatan matahati kian nyentrik di kulit, siang itu tepat pukul 11:00 wib. Sesaat kemudian setelah selesai mandi kedua remaja tersebut meninggalkan rumah, hendak menuju ke Kabupaten Pesawaran tepatnya di Kecamatan Gedung Tataan.

Diperjalanan Bayu yang di bonceng oleh Aji tampak diam, terasa beban pikiran menyelimutinya, benar saja beberapa waktu yang lalu Bayu bertemu dengan seorang dara mengenakan kerudung sebagai hijab seorang wanita, kala itu dirinya sedang melakukan aktifitas nya sebagai Wartawan yang bertugas di Provinsi Lampung. Sementara gadis tersebut belum sempat ia ajak kenalan, sepintas paras gadis itu selalu terpancar dalam ingatannya.

Kegundahan itu terang saja selalu menyelimutinya, gadis yang ia lihat sosok idamannya, kendati belum mengenalnya namun hati dan pikirannya terus bertanya-tanya siapakah gerangan gadis itu. Tak pelak Bayu memiliki pengalaman unik saat ia melihat gadis idamannya di sebuah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung, di saat yang bersamaan Bayu sedang meliput kegiatan yang diselenggarakan oleh insntansi vertikal Pemerintahan Provinsi Lampung yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung sebab Bayu  sebagai Jurnalis yang bertugas di wilayah itu, akan tetapi belum sempat memperhatikan gadis itu secara seksama hanya saja sepintas lalu.

Saat itu Bayu sedang meliput kegiatan Rangkaian Proses Pemilihan Kepala Daerah di Wilayah Provinsi Lampung, yang mana Bakal Calon Kepala dan Bakal Calon Wakil Kepala Daerah harus mengikuti proses pemeriksaan Rohani di RSJ Provinsi Lampung yang terletak di Kabupaten Pesawaran.

Pertemuan yang begitu singkat membuat Bayu enggan meninggalkan rasa ingin tahunya itu, sejak pertama kali dirinya melihat gadis tersebut tampak berseragam salah satu instansi vertikal di Pemerintahan Kabupaten Pesawaran - Lampung. Saat itu bertepatan tanggal 28 Juli 2015 pertama Bayu melihatnya. Waktu terus bergulir mengikuti porosnya, siang berganti petang, Bayu pun meninggalkan RSJ dengan sedikit kecewa. Kendaraan yang dikendarai kedua remaja itu pun melaju tanpa henti, setibanya di depan RSJ, Bayu kembali ingat akan wajah gadis yang dilihatnya saat itu, perlahan                 Bayu membuka obrolan kepada Aji, dengan tujuan menghilangkan gundah yang di rasanya.

"Apa kegiatan besok ya?, tanya Bayu dengan nada datar.
"Ya santai aja lah di rumah, mau kemana lagi, "timpal Aji singkat. Perbincangan keduanya pun terputus, tidak terasa sengatan matahari kian terasa di kulit. Lintasan beraspal terus mengering hembusan angin tidak lagi bisa di nikmati, semakin melaju kendaraan roda dua yang di kendarai Aji bersama Bayu pun tiba di Gedung Tataan, yang merupakan daerah tempat tinggal Aji. Setibanya di rumah Aji pun langsung merebahkan tubuhnya yang lelah, sementara Bayu masih termenung dan iapun hendak bertanya kepada Aji, namun apalah daya, Aji yang kala itu tidak tahu, Bayu pun hanya diam termangu.

Detik jarum Arloji terus berputar tanpa lelah melayani waktu, kelelahan setelah menempuh perjalanan, Bayu pun dengan santai menyandarkan punggungnya di sisi almari, bising riuh acara televisi membuatnya sedikit terhibur, senyum kecil terlihat dari bibirnya, sementara Aji asyik bermain dengan Gadgets nya. Jauh pandangan mata yang kosong membawa Bayu dalam buaian lamunan, "siapalah gadis itu ya, jadi kepikiran terus, ah siapa tau besok dia ada lagi di rumah sakit, besok itu kan jadwalnya calon kepala daerah Kabupaten Pesawaran, siapa tau aja di ada, "pikir Bayu  dalam hati seraya bertanya dengan dirinya sendiri. Senyum simpul dari bibirnya ia tidak menyadari bahwa Aji memperhatikannya sejak ia terdiam, dengan lirih Aji pun memecahkan keheningan di antaranya.

"Kenapa loe bro?, senyum-senyum sendiri, parah loe ini, "gurau Aji.
"Ah biasa aja, inget sesuatu aja, agak pribadi sih, hehehe, "jawab Bayu singkat.
"Hayo lagi kasmaran ya?, kejar Aji ingin tau.
"Kasmaran sih nggak, cuman aneh aja gitu, biasalah, namanya juga, ... "Bayu nggan meneruskan perkataannya.
Gak asyik loe nih, woy inget, gawean banyak, sebiji belum ada yang di kerjain, "ucap Aji seraya mengingatkan.
"Hemmm, iya juga ya, "lirih Bayu sembari manyun.

Waktu terus bergulir pada porosnya, sayup-sayup terdengar suara Adzan Mahgrib berkumandang, kedua remaja itu tampak masih asyik memainkan ibu jari di atas tombol (keyboard) HandPone nya masing-masing, keaktifan ibu jari merekapun ternyata keduanya sedang bergelut dengan imajinasi untuk membentuk sebauh artikel berita yang akan di sajikan kepada publik, melalui perusahaan pers media online tempat keduanya melakoni profesi jurnalistik. Kesibukan diantaranya pun terhenti saat kumandang Adzan Sholat Isya menggema, terdengar samar suara lirih keluar dari bibir Bayu.

"Syukur deh kerjaan gua masih banyak, cape otak gua, mau mandi dulu lah gua, "kata Bayu sembari menggeliat. Aji pun diam seakan tak mendengarkan perkataan Bayu, ia pun terus membuat artikel, tanpa menghiraukan Bayu. Seusai mandi Bayu pun kembali duduk santai sambil menikmati segelas kopi, lalu kembali mengemas huruf untuk di jadikan sebuah artikel berita. Satu persatu artikel terkirim melalui via pesan e-Mail pribadi, setelah usai membuat artikel berita kantuk mulai menyerang pelopak mata, dengan diam-diam Aji beranjak dari rebahannya menuju tempat tidur, selang beberapa saat Aji pun terlelap. Tidak terkecuali Bayu, meskipun pupil dimatanya telah menciut, dirinya enggan tertidur, tinggalah dia seorang diri di ruang tamu, suasana yang hening hanya terdengar suara jangkrik yang berderik memecahkan sunyinya malam, diapun beranjak dari tempat duduknya lalu menyusul Aji ke kamar, untuk beberapa saat diapun terlelap.

Keesokan harinya Bayu kembali melakoni aktifitasnya sebagai Jurnalis, siang itu, sekitar pukul 11:20 wib dirinya meliput di RSJ, di saat yang bersamaan dirinya pun kembali teringat wajah gadis yang ia jumpai kala itu, dengan langkah penuh harapan, dari kejauhan tampak terlihat sosok wanita berkerudung unggu, sedang berdiri di sudut lobi Rumah Sakit, kendati kerumunan orang terlihat lalu lalang melintasi lobi-lobi rumah sakit, pandangan Bayu tetap tertuju pada perempuan yang berkerudung unggu dengan harapan wanita itu orang yang selalu mengganggu pikirannya, terang saja benar, pucuk di cinta ulam pun tiba, seolah tidak memperhatikan, Bayu pun berdiri tidak jauh dari gadis itu berdiri. Sesekali Bayu memperhatikan wanita itu, tanpa di sadari gadis itu pun memperhatikan dirinya, dalam hati gadis itu pun berkata, "itu cowok keren banget sih, mana putih lagi, rambutnya, hemmm, siapa ya dia itu, "tanyanya dalam hati. Hal yang sama pun di rasakan oleh Bayu, "asli ini cewek yang gua liat beberapa waktu lalu, sebenarnya dia itu siapa tugas di instansi mana, "tanyanya dalam hati. Selang beberapa saat pandangan keduanya pun terpokuskan oleh seorang kandidat calon kepala daerah yang telah seselasi mengikuti pemeriksaan rohani di ruang specialis, kerumunan awak media pun tak terelakan lagi demikian pula Bayu sesekali Bayu memperhatikan wajah ayu yang tak lain adalah Cantika wanita yang belum sempat ia kenal namun telah mengganggu pikirannya sejak lama, tampak gadis itu masih berdiri tidak berada jauh dari Bayu.

"Hai mbak, tugas di mana?, tanya Bayu lirih seraya memberanikan diri.
"Saya dari lembaga pengawas pemilu, "jawab gadis itu sembari tersenyum. Bayu pun membalas senyuman sambil mengangguk-anggukkan kepala, kemudian perlahan ia pun berlalu pergi, menuju lobi tepat di taman interior rumah sakit, setelah selesai membuat artikel berita, sontak dalam hatinya bertanya, "nah gadis itu siapa namanya, waduh, loe ini gimana Bayu - bayu, “Sesalnya dalam hati. Tidak menunggu lama ia pun beranjak dari tempat duduknya hendak menemui gadis itu, dari kejauhan tidak melihat satu pun orang mengenakan kerudung di area lobi, dirinya hanya mampu menarik nafas panjang saat ia sadari gadis idamannya telah pergi, "nah kemana cewek itu, kok sudah tidak ada lagi, "tanyanya dalam hati sembari tertunduk lesu. Dengan rasa kecewa diapun istirahat di sebuah kursi ruang tunggu, waktu terus berlalu, temaram matahari nyaris tenggelam di upuk barat, Bayu pun memutuskan untuk pulang mengakhiri aktifitasnya. Pertemuan Bayu yang begitu singkat membuat asa dalam hati nya sedikit lega, namun pertanyaan demi pertanyaan pun terus menggerogoti pikirannya.

Hari berganti Minggu, sepekan sudah berlalu, siang itu Bayu kembali berkunjung ke kediaman Aji.

Tok-tok-tok, terdengar suara ketukan pintu.
"Asalamualaikum, asalamualaikum, "salam Bayu sembari mengetuk pintu rumah Aji.
"Waalaikumsalam, bentar, "sahut sesorang dengan suara ciri has pria. Untuk beberapa saat kemudian pintu pun terbuka, terperanjat Aji saat melihat Bayu telah berdiri tegap tepat di depan pintu.
"Eh loe bro, kirain siapa, tiba-tiba bertamu gak ada kabar sebelumnya, "sapa Bayu dengan nada datar.
"Iya nih, maklumlah, bete di rumah sendirian, "sahut Bayu sembari nyengir.
“ya sudah ayo masuk, “ajak Aji kepada Bayu. Cengkerama keduanyapun terdengar riang menggelitik telinga.

Pagi yang cerah embunpun hilang di serap sinar mentari, tampak terlihat dua orang gadis yang tak lain Cantika dan Ratih, keduanya adalah dua saudara, kakak adik, terlihat Cantika  berpakaian rapi mengenakan baju biru tua ciri khas pakaian dinas di sekretariat Panwaslu kabupaten Pesawaran.

Waktu menunjukan pukul 07:15 wib Cantika pun bersiap menuju kantor guna menuai aktifitasnya sehari-hari, seperti halnya itu, Ratih  pun tampak mengenakan baju batik seragam sekolah, saat itu Ratih sedang duduk di kursi kelas XI di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pelita Gedung Tataan Kabupaten Pesawaran, sayup terlihat ibu paruh baya membuka jendela teras depan rumah, dengan samar terdengar suara serak.

"Kenapa kalian belum berangkat, ini sudah siang anak-anakku, "tanya ibu paruh baya itu kepada anaknya.
"Ia Ma, ini dah siap berangkat, "sahut Cantika pada ibunya.

Perlahan sepeda motor yang di kendarai kedua dara itu pun meninggalkan halaman rumah dan berlalu dari pandangan ibu paruh baya yang merupakan ibu kandung dari Cantika dan Ratih. Setelah mengantar Ratih ke sekolah Cantika pun langsung menuju ke kantor. Di perjalanan, Cantika terus berinteraksi dengan pikirannya, yang kala itu dirinya sedang memiliki masalah dengan kekasihnya. Setibanya di kantor ia pun bertemu dengan kekasihnya, pertengkaran hebat pun terjadi di antara mereka, sehingga keduanya memutuskan untuk tidak menjalin hubungan.

Waktu terus tergerus, siang itu Cantika yang sedang gulana, tanpa sadar ia tersirat wajah pria berambut ikal panjang yang tak lain Bayu saat di RSJ. Dalam hatinya tak ayal lamunan pun menghampiri Cantika. "Sebenernya itu siapa lah sepertinya dia Wartawan Provinsi Lampung, tapi kok dia ada di Pesawaran, ah siapa tau Aji paham dengan cowok itu, mungkin saja, "lamun dalam hatinya seraya bertanya. Lamunan     Cantika pun masih terus berselancar dalam benaknya, tak lama kemudian kembali tersirat persoalan yang di hadapinya saat bertengkar dengan kekasihnya, sehingga bibir cemberut pun sangat nampak sekali, tanpa di sadari buliran air matanyapun berlinang di sela hidungnya. Kesedihan Cantika  pun membawanya pada puncak lemah tanpa ada asa. Tidak menunggu lama Cantika pulang dari kantor, ia pun pamit dengan kepala Sekretariat untuk minta izin pulang lebih awal, dengan dalih dirinya sedang tidak sehat, tanpa pikir panjang Cantika  beranjak dari tempat duduk lalu berpamitan untuk pulang. Di atas kendaraan Cantika membawa perasaan yang tidak menentu, bicara sendiri di atas kendaraan pun tanpa ia sadari, "emang siapa dia, seenaknya nyakitin perasaanku, tidak akan pernah saya mau balikan lagi sama dia, yang telah membuatku sakit hati, "ucapnya spontan, diperjalanan sendu hati kian menghujat pikirannya, sehingga setiap sapaan yang di lontarkan oleh orang-orang yang mengenalnya pun terhiraukan.

Hari berganti hari, saat Cantika sedang aktif melakoni aktifitasnya di kantor, dengan pelan tanpa sapa Aji mendatangi Cantika, hendak mengejutkan dirinya, akan tetapi niat Aji gagal, sebab Cantika mengetahui kedatangan Aji dan tiba-tiba Cantika menyapa, Dian pun menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal, hanya untuk mengalihkan niatnya.

"Ngapain loe Aji di sini pagi-pagi?, tanya Cantika lantang.
"Eh jeng Cantika, hehehe, "singkat Aji sembari tertawa lirih. Cantika pun berhenti dalam aktifitasnya, kedua remaja itu pun terlibat perbincangan serius, tanpa ragu Cantika  pun bertanya kepada Aji ikhwal pria yang ia lihat di RSJ kala itu.

"Eh dian, loe tau nggak dengan Wartawan Provinsi yang ngeliput acara pemeriksaan Rohani para Calonkada di RSJ, orangnya miriplah sama loe, beda sih, "tanya Cantika ingin tahu.
"Walah loe nih nanya apa ngasih tau?, timpal Aji yang tidak mengerti.
"Ah dia nih lo, bikin bete gua aja, gua nih serius, loe tau nggak siapa dia?, ungkap Cantika  dengan nada datar.
"Ya mana tau gua Cantika, tanya tuh kasih tau ciri-cirinya gimana, main tanya aja, repot amat hidup loe ini Cantika, "ujar Aji seraya meledek.
"Hemm, dia itu putih, rambutnya agak panjang, rapi, perawakan gak jauh sama loe, gitu lo, dia itu wartawan Provinsi kayanya, "ujar Cantika  menjelaskan. Tanpa ragu Aji pun menjawab seakan benar adanya yang akan ia beritahukan, terang saja jawaban Aji tidak salah. Sebab Aji tau persis ciri-ciri laki-laki yang di sebutkan oleh Cantika itu tak lain adalah sahabat karibnya.
"Itu Bayu namanya, dia itu wartawan Provinsi sedang tugas liputan untuk Calonkada pada proses tahapan pemilu termasuk tes kejiwaan di RSJ, emang kenapa?, "jawab Aji  berbalik tanya.
"Nggak apa-apa sih pingin tau aja, "kata Cantika sembari senyum kecil. "Oh Bayu to namanya, hemm, "katanya dalam hati. Di saat yang sama Aji  pun tampak heran melihat Cantika yang tersenyum sendiri sembari melihat lantai.
"Ah udah lah, gua mau pergi dulu, "kata Aji tiba-tiba.
"Ya udah sono pergi, makasih ya infonya, "ujar Cantika mengucapkan terimakasih. Aji tak menjawab hanya menganggukan kepala tanda mengiyakan perkataan Cantika, dan ia pun berlalu dari pandangannya. Cantika pun kembali menggeluti huruf dan angka yang ada di Laptopnya sebagai materi tugas yang harus ia selesaikan.

Minggu ke 4 bulan Juli 2015 Bayu kembali berkunjung ke rumah Aji, siang itu tampak ramai sekali di rumah Aji, Bayu tiba.
"Assalamualaikum...
Terdengar salam dari Bayu, Aji pun tidak tahu kalau sahabatnya itu berkunjung ke rumahnya.
"Waalaikumsalam. Sahut berbalas salam.
"Nah loe bro, sama siapa loe kesini?, ayo masuk, "tanya Aji sembari mengajak.
"Sendiri bro, biasalah kangen ama loe, dah lama juga gak ketemu, "ramah Bayu.
"Ia juga sih. Hehehe.
Perbincangan keduanya pun semakin asyik. Tanpa di sadari Bayu pun saat itu tampak asyik sekira tanpa beban. Tiba-tiba Aji  berucap.

"Bro loe di tanyain sama Cantika,  cewek yang kerja di Panwaslu Pesawaran, kapan itu gua ketemu sama dia di kantornya, dia nanyain loe, ya gua kasih tau aja bahwa loe itu Bayu, "Aji  memberi tahu.
"Cantika itu yang mana bro?, siapa dia?,
"Itu lo yang, ... ah payah ngejelasinnya, pokoknya dia itu ikut Calonkada di RSJ, ini nih pin BlackBerry Messengernya, "ucap Aji sembari memberikan pin kontak milik Cantika  pada Bayu.
Tidak menunggu lama Bayu pun langsung invite pin tersebut, saat di terima Cantika, ia pun kaget, dan berkata dalam hatinya, "inimah cewek itu, hemm,,, tenyata Cantika namanya, "gumamnya dalam hati.

Dalam kenyataan rasa ke dua remaja itu pun berlanjut pada komunikasi via telepon cellular, sejak di bagunnya komunikasi oleh Bayu, hubungan komunikasi terlihat tidak begitu berjalan baik, ilmu cuek masa kini pun masih kentara sekali di atara keduanya. Menimbang kominikasi yang sulit di bangun Bayu pun sempat memutuskan untuk tidak mengharapkan Cantika sebagai tambatan hatinya, namun hal itu tidak serta merta ia lepas kontak dengan Cantika, senyum terurai di bibir Bayu menghadapi sikap Cantika yang begitu dingin terhadapanya, akan tetapi Bayu sadar bahwasannya Cantika saat itu sedang mengalami kekecewaan yang amat sangat di hatinya, setelah memutuskan hubungan dengan kekasihnya yang kala itu dan hingga kini masih satu profesi dan di kantor yang sama.

Seiring berjalannya waktu Cantika pun memutuskan untuk kembali ceria di atas segala kekecewaan yang sempat ia alami. Di sela-sela kesibukannya tersirat ingin bermanja-manja, namun hal itu tidaklah mudah ia lakukan sejak mengalami kekecewaan, seolah semua pria sama seperti mantan kekasihnya.

Warna senyum terurai seiring berjalannya hari, canda dan tawa terlihat riang dari wajah Cantika saat bergurau dengan Ratih, sebab Ratih merupakan teman sekaligus adik, bagaimana tidak intensitas hati seorang wanita begitu sensitif terhadap persoalan asmara, ya tidak dapat di pungkiri kisah cinta Cantika tidak begitu indah dan berjalan mulus sesuai dengan keinginannya, harapan hati ingin bahagia namun kecewa yang di dapat. ‘Begitulah cinta deritanya tiada akhir’ seperti sair yang di ucapkan oleh Panglima Perang Tian Feng (Pat Kay).

Malam yang terus tergerus oleh waktu, mata indah Cantika mulai sayu di serang kantuk, tepat pukul 21:15 wib dering telepon genggamnya berbunyi, sontak ia pun melihat layar ponsel, ia pun nggan menjawab panggilan tersebut, yang tak lain Bayu pria yang belum sempat ia kenal lebih dekat, dering ponsel pun terputus tanpa ada jawaban, satu sisi Bayu pun hanya bisa menghela nafas saat telfonnya tidak mendapatkan jawaban dari Cantika. Setelah dering ponselnya berhenti Cantika pun berucap lirih seraya bertanya-tanya, "ngapainlah telfon malem-malem gini ganggu istirahat aja, "katanya lirih sembari menarik selimut. Diwaktu yang sama Bayu pun bergumam dalam hati, "ini cewek dingin banget sih, hemm, "katanya dalam hati sembari senyum kecil.

Keesokan harinya aktifitas yang padat menghampiri Bayu, terik matahari sungguh menyengat kulit, dalam kesibukannya tersirat wajah ayu di balik kerudung yang tak lain Cantika gadis yang ia lihat di RSJ kala itu, ia pun mengemas artikel, siang itu tampak begitu melelahkan, sekitar pukul 15:20 menyempatkan diri menyapa melalui pesan singkat (sms) sekedar bertanya.

"Met siang, sedang apa nih?, "tulisnya singkat. Setelah pesan terkirim belum juga ada balasan yang di terima, Bayu pun meneruskan aktifitasnya, hari semakin sore Bayu memutuskan untuk pulang, sebab dirinya merasa kurang enak badan. Setibanya Bayu dirumah tanpa menunggu lama iapun mengambil kotak P3K, mencari obat Paracetamol, setalah diminum ia pun langsung rebahan tanpa menghiraukan tugasnya yang begitu banyak belum dia selesaikan. Tidak terasa panas dingin di tubuhnya kian menjadi, meski sempat tertidur efek obat yang dia minum, namun kondisi tubuh yang kelelahan membuat demam menghampirinya, sekitar pukul 17:35 wib Bayu  terbangun suhu tubuh yang meningkat membuatnya gelisah ia pun bergegas ke rumah sakit terdekat untuk memeriksakan diri ke Dokter, setibanya di Rumah Sakit Griya Husada yang tidak jauh dari rumahnya.

"Selamat sore pak, ada yang bisa kami bantu?, "tanya suster di meja recapcionis.
"Iya nih Sus, badan ku terasa berat banget, "sahut Bayu singkat.
"Tunggu sebentar ya pak, saya panggilkan dokternya dulu, "kata Suster tersebut. "Bapak silahkan tunggu sebentar, di ruang tunggu, dan tolong di isi formulir pasien, "ucap suster itu sembari menyodorkan kertas berwarna jingga. Setelah mengisi formulir Bayu pun duduk di ruang tunggu, beberapa saat kemudian, seorang suster yang berbeda menghampirinya.

"Bapak Bayu ya?, tanya suster itu dengan ramah, yang kebetulan di ruang tunggu memang tidak begitu ramai.
"Iya saya sendiri, ada apa ya sus?, jawab Bayu berbalik tanya.
“Mari keruang pasien, dokternya sudah menunggu, "ajak suster itu. Tanpa menjawab Bayu pun beranjak mengikuti langkah suster yang menuju ruang pasien. Setibanya di dalam terlihat dokter berpose cerah di perkirakan usia baru mencapai 40 tahun. Dengan ramah dokter Anton menyapa sembari melepas kacamata yang di kenakannya.
"Sore bapak Bayu, silahkan duduk, "sapa dokter Anton ramah sembari menyilahkan Bayu duduk di hadapan meja nya. Setelah duduk Bayu kembali di serang pertanyaan layaknya di intograsi dari aparat kepolisian. Namun hal itu bukan lah semata-mata pertanyaan mengintimidasi atau hal lainnya bersifat kriminal, namun bidang kesehatan, Bayu dengan jujur menjawab.

"Apa yang di rasakan pak?, tanya dokter Anton.
"Badan ini terasa sakit semua, lalu ngilu sampai ke sumsum, kulit bila di sentuh begitu hangat dok, "Bayu menjelaskan.
“Oke mari ke ruang pemeriksaan, "ajak dr. Anton. Bayu pun beranjak mengikuti dr. Anton. Setibanya di ruangan Bayu pun langsung berhadapan dengan mesin pendeteksi organ tubuh. Sistem pemeriksaan radiologi memang tergolong alat canggih, tak heran bila organ tubuh yang bermasalah dengan Fungsi kesehatan dapat di lihat, hasil scaning dapat di lihat dari monitor layar kaca, seolah tidak merasakan, sakit namun dia sangat terkejut saat dr. Anton menjelaskan hasil lab yang di lakukannya.

"Bapak Bayu jangan kaget ya, harap rileks dan tenangkan emosi, "kata dr. Anton lirih sembari melepas kacamatanya. Bayu pun terdiam tak terkata-kata. Namun dengan rasa penasaran yang begitu hebat Bayu pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Memangnya ada apa dengan organ tubuh saya dok?, tanya Bayu ingin tahu.
“pengembangan paru-paru, sel pembuluh darah di paru-paru anda mengalami penyebaran sel darah, "dr. Anton mengungkapkan.
"Apa dok?!!!, "Bayu sontak duduk dan lesu mendengar penyataan dr. Anton.
"Sabar pak Bayu, "ucap dr. Anton lirih. Bayu hanya terdiam. Tak terasa terlihat sembab mata Bayu berkaca-kaca. Dr. Anton pun tidak berdaya melihat Bayu yang sayu di hadapannya. Terbesit dalam hati Bayu, hidup seorang diri di tanah perantau membuatnya semakin pedih atas apa yang ia alami, kendati demikian Bayu tetaplah Bayu yang hanya bisa bertahan dalam keadaan serumit apapun. Dering bel suster terdengar, isyarat dari dr. Anton terhadap susternya, ketukan pintu lirih pun terdengar.

"Tok-tok-tok, "ketuk suster.
"Masuk!, "perintah dr. Anton.
"Suster, tolong siapkan ruangan pemeriksaan, untuk bapak Bayu termasuk perlengkapan dokter, "ujar dr. Anton memerintah. Suster itu pun segera bergegas menyiapkan ruangan pasien.

"Bapak Bayu, mari saya periksa dulu, denyut jantung dan aliran darahnya, "lirih dr. Anton. Bayu tidak menjawab ia hanya bisa mengikuti kata dr. Anton yang menanganinya. "Bapak punya keluarga atau sanak family di sini, saya lihat dari tadi bapak sendirian?, "tanya dokter Anton ingin tahu.
"Tidak punya dok, saya sendirian di sini, saya tidak punya siapa-siapa di sini, "jelas Bayu. Dalam keadaan drop Bayu tetap tersenyum menghadapi penyakit yang di deritanya. Untuk beberapa saat kemudian Bayu pun berbaring di atas difan pasien, belum sempat Bayu di periksa, Bayu mengalami kejang yang begitu hebat, yang mengkibatkan spot aliran darahnya tidak stabil, hal itu di sebabkan banyaknya pembuluh darah yang menyelimuti paru-paru. Dengan sigap dr. Anton mengambil tindakan medis yang di bantu oleh dua orang suster. Proses penanganan yang begitu cepat, Bayu pun akhirnya kembali normal, dr. Anton pun lega. Berderet selang infus masuk di lengan Bayu bahkan selang oxsigen pun menyumbat di hidungnya. waktu semakin larut sekitar pukul 21:10 wib Bayu masih terbaring lesu, namun Bayu tetap sadar, akan tetapi dirinya tidak mampu berbuat apa-apa. Dilihatnya tidak seorangpun ada di sekitar ranjang tempatnya berbaring, air mata kembali mengalir, kesedihan menghampiri tanpa ada perundingan dulu.

"Sedih amat ya hidup ku, "katanya dalam hati. Namun apalah daya dia tidak bisa bergerak. Saat ia melihat ke pintu terlihat suster sedang mengawasinya, Bayu pun memanggilnya meskipun suaranya tidak dapat di dengar dari luar, suster Eti pun mengerti ucapan Bayu meskipun dirinya tidak dapat mendengar suara Bayu, perlahan pintu terbuka, suster Eti pun mendekati Bayu  dengan senyum ramah.

"Ada yang bisa saya bantu pak, "tanya Eti seraya bertanya.
"Saya lapar pingin makan, "lirih Bayu  yang hampir tidak terdengar oleh Eti.
"Apa pak, malam?, iya ini sudah malam pak, hampir pukul 22:00 wib, "jawab Eti sembari menjelaskan kembali ucapan Bayu.
"Bukan malam, tapi makan, "ujar Bayu kembali, suster pun mencoba mendekatkan telinganya.
"Oh makan, tunggu sebentar ya, "Eti pun bergegas keluar menyiapkan makan ala dokter. Pandangan kosong Bayu  menatap lampu di atas langit-langit ruangan. Selang beberapa saat Eti pun kembali dengan membawa bubur serat asupan gizi. Dengan sabar Eti menyuapi Bayu, sungguh mulia tugas seorang suster yang bertugas melayani pasien, dengan ramah dan lembut Eti melayani Bayu, namun hanya empat suapan bubur Bayu pun menyudahi makannya, Eti hanya mampu memandang penuh iba. Bayu pun melihat Eti, dalam diri Eti terlihat ketulusan melayani pasien, Bayu  pun kembali meminta Eti menyuapinya, hal itu di lakukannya tidak ingin membuat kecewa Eti dalam melayaninya malam itu, meskipun Bayu  kenyang setalah melahap 4 sendok bubur serat, perlahan Bayu mengangnga, Eti pun tersenyum lalu kembali menyuapi Bayu dengan tulus, saat yang bersamaan, mata Bayu pun berkaca-kaca, dan ia pun menyudahi makannya, ntah apa yang ada dalam benak Bayu sehingga membuat matanya berkaca-kaca. Eti pun hanya diam memandangi Bayu, setelah sekitar 1 jam lebih Eti pun meninggalkanNYA  sendiri, saat itu Bayu  terlelap dalam tidurnya.

Sang surya pagi menampakan sinarnya dengan hangat, aktifitas warga yang hendak menyambut hari ulang tahun kemerdekaan republik indonesia yang ke 70 tahun 2015 pun di sibukan dengan kegiatan guna merayakan detik-detik Proklamasi kemerdekaan, tidak terkecuali Bayu yang tengah terbaring tidak berdaya di rumah sakit akibat paru-paru mengembang di sebabkan banyaknya jaringan pembuluh darah, lain lagi dengan Cantika, ia sibuk dengan rutinitasnya menghadapi proses pemilukada serentak pada 9 Desember 2015.

Sengetan matahari siang itu cukup membakar kulit, sekitar pukul 10:35 wib. Dr. Anton kembali memeriksa Bayu.
"Selamat siang pak, "sapa dr. Anton ramah sembari melontarkan senyuman.
"Siang juga dok, "singkat.
"Bagai mana kondisinya sekarang, ada perubahan?, tanya dr. Anton ingin tahu.
"Masih terasa sesak dok, "ungkap Bayu lirih, akibat sesaknya dada sehingga menyulitkannya untuk bicara. Mendengar penjelasan Bayu yang samar-samar dr. Anton kembali memeriksa Bayu secara seksama, yang di bantu dua perawat. Setelah menjalani perawatan Empat hari lamanya di rumah sakit Griya Husada, kondisi Bayu membaik, sementara Administrator rumah sakit menanyakan kepada dr. Anton perihal biaya pengobatan buat Bayu selama 4 hari.

"Dok, tuan Bayu bagaimana keadaannya?, "tanya admin ingin tahu.
"Kondisinya sudah membaik, namun reaksi obat belum sepenuhnya bekerja, ada apa dengan tuan Bayu?, "ujar dr. Anton.
"Bagaimana dengan biaya pengobatan dok?.
"Sabar, Bayu tidak ada sanak keluarga di sini, dia sendirian, tunggu saja sampai dia kembali normal nanti saya bicara dengan dia perihal biaya pengobatan selama ia di rawat, "ujar dr. Anton menjelaskan.

Perbincangan keduanya pun tampak menyepi ditengah kondisi Bayu yang belum sepenuhnya membaik, akan tetapi dr. Anton yakin jika Bayu segera membaik oleh karena itu dr. Anton memberikan penjelasan kepada admin rumah sakit. Sementara kerlip mata erwin hanya mampu memandang langit-langit rumah sakit saat ia tidak mampu berbuat apa-apa dalam keadaan yang tak berdaya.

Perasaan hampa kian menyelimuti hati remaja yang tak lain adalah Bayu, siang itu tepatnya Sabtu 15 Agustus 2015 dr. Anton kembali memastikan kesehatan Bayu, sungguh hal yang menggembirakan ketika dr. Anton mengatakan jika kesehatannya sudah cukup membaik sehingga dirinya diperkenankan untuk melakukan rawat jalan yang artinya Bayu diperbolehkan untuk pulang tidak hanya itu dr. Anton juga mengatakan bila Bayu disarankan agar selalu berkoordinasi setiap saat dengannya.

“Siang dok, “sapa Bayu saat melihat dr. Anton membuka pintu.
“Siang juga, sudah bangun, bagaimana dengan kesehatannya apa sudah ada perubahan?, “tanya dr. Anton kepada Bayu sembari melontarkan senyum.
“Sudah lumayan sehat dok hanya saja masih lesu, “Sahut NYA  lirih.
“Ya tentu tapi jangan khawatir reaksi obatnya belum bekerja maksimal, nanti jika sudah bereaksi pasti sehat, “Terang dr. Anton menjelaskan. Sementara itu sembari memeriksa dr. Anton bercengkerama dengan Bayu tampak serius, disisi lain Aji yang tak lain sahabat karib Bayu belum juga menjenguknya ke rumah sakit, hanya bisa berkomunikasi melalui via telepon selularnya, siang itu serasa hari yang paling bahagia bagi Bayu sebab dirinya di perkenankan pulang dan melakoni proses berobat jalan.

Riuh ramai masyarakat kota Bandar Lampung dalam persiapan menyambut hari kemerdekaan, saat yang sama Cantika pun sempat menghubungi Bayu melalui pesan singkat, bertanya tentang kabar, tampaknya hubungan mereka mendekati muara persahabatan yang nyata. Dilema yang selama itu akhirnya terjawab saat Cantika mengajaknya bertemu di suatu tempat, tanpa canggung Bayu pun mengiyakan ajakan Cantika untuk berjumpa meskipun kondisi kesehatan nya belum sehat benar, namun ia berfikir demi sang pujaan hati dirinya harus kuat. Benar saja hari itu tepatnya 17 Agustus 2015 kali pertama Bayu dan Cantika bertemu. Pertemuan yang sangat mengesankan dimana baru pertama kali berjumpa keduanya saling menyukai dan pada akhirnya mereka menjalin hubungan asmara, walaupun awalnya baik, Cantika maupun Bayu  belum sepenuhnya percaya atas kenyataan yang dijalaninya, bagaimana tidak baru pertama kali bertemu dan kenal secara langsung keduanya langsung menjalin hubungan asmara.

Senyum simpul selalu terlontar di antara mereka, dengan kondisi badan yang ranum Bayu merasa sedikit sehat seketika, akan tetapi wajah yang layu tidak dapat membohongi pandangan dan perhatian Cantika  kepada Bayu.

“Abang sakit ya?, tanya Cantika lirih.
“Enggak ah siapa yang sakit, sehat gini dibilang sakit, cie yang lagi mencoba perhatian, “Ujar Bayu seraya menggoda.
“Kalau gak sakit itu tidak mungkin, sebab ini wajah pucat pasi, jangan bohong kenapa, sakit ya sakit gak perlu di tutup-tutupi, toh kelihatan geh, “Ungkap Cantika datar.
“Hemmm.
“Kenapa kesini, mau ketemuan, kan masih sakit jangan beri saya alasan oke!,
“Terus kalau bukan alasan bagaimana aku harus menjawab pertanyaanmu itu?,
“Iya juga sih, lalu alasanmu apa geh?,
“Simpel sih singkat dan mudah di mengerti kok,
“Mulai nih ngajak teka-teki,
“Iya dong, mau lah,......... . dengan nada terpatah-patah Bayu tampak kaku dalam berbalas kata.
“Eee...mmm, saya kesini satu alasan jelas yaitu saya pingin kenal dirimu lebih dekat lagi sebab saya........, “Bayu terhenti dan enggan meneruskan ucapannya, sehingga Cantika pun penasaran, sementara itu Cantika hanya mampu memandang lekat-lekat wajah Bayu.
“Sebab apa?, ha.... kok berhenti ngomong, seneng tah bikin orang penasaran, “Cetusnya.

"Ya, maksudku, aku cinta sama kamu, aku pingin kamu jadi pacar aku,"Kata Bayu sambil menarik jemari Cantika.
"Ah, gak percaya aku, kalau kamu cinta sama aku,
"Aku serius kok, aku pingin kamu jadi pacarku, kamu mau ya,
"Hemmm, gimana ya, terima kaga ya, "Jawab Cantika, seraya membuat penarasan Bayu, meskipun Cantika juga ingin sekali langsung menjawab iya atas cinta yang diucapkan Bayu.
"Yach, kok gitu sih ngomongnya, serius nih,
"Ya, serius juga,
"Ya, ngomong aja law gak mau, jangan bikin penasaran dong,
"Emang enak penasaran?,
"Ya deh, maaf, maafin aku ya..
"Hemm maaf doang,
"Lah terus gimana dong, cinta aja belum jelas, ini ada lagi, hadeh maak, "Kata Bayu sambil garuk-garuk kepala tanpa ada rasa gatal.
"Ya deh, maaf, aku terima cintamu, aku mau jadi pacarmu, "Jawab Cantika sembari melontarkan senyum manis ke Bayu.
“Yesss, “Rasa girang Bayu.

Mendengar jawaban Cantika, Bayu pun girang dan keduanya pun berpelukan. Akhirnya cinta ke dua remaja itu tersampaikan, dan keduanya menjadi sepasang kekasih.

SEKIAN

~ CERITA INI DIBUAT BERDASARKAN IMAJINASI TENTANG CINTA ANAK MANUSIA. MOHON MAAF APA BILA TERDAPAT NAMA, TEMPAT DAN KEJADIAN YANG SAMA, ITU SEMUA HANYA KEBETULAN SAJA, SEBAB INI HANYA SEBUAH KARANGAN DAN FIKTIF BELAKA ~

Penulis : Erwin, Wartawan Media Online ( jalosi.net )
Naskah : Senyum Kecil
Artikel : Cerpen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad