Melestarikan, Memahami dan Mengamalkan Nilai Luhur Budaya Sunda - Jalosi.net | Jalur Otoritas Informasi

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Sabtu, 11 Januari 2020

Melestarikan, Memahami dan Mengamalkan Nilai Luhur Budaya Sunda

Jakarta, jalosi.net - Indonesia merupakan negara yang terdiri dari belasan ribu pulau. Tiap pulau atau daerah tentu memiliki beragam suku, bahasa dan budaya yang berbeda – beda. Termasuk suku Sunda yang menempati pulau Jawa bagian barat, atau biasa disebut Jawa Barat tentu memiliki budaya yang berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap masyarakat tentu memiliki keinginan untuk melestarikan nilai – nilai luhur budaya yang ada di daerahnya masing – masing. Itu semua tentu sah – sah saja.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), budaya diartikan sebagai pikiran akal budi atau adat-istiadat. Secara tata bahasa pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. Budaya merupakan salah satu cara hidup yang terus berkembang dan dimiliki bersama oleh suatu kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Jadi ketika berbicara budaya Sunda, artinya kita berbicara tentang akal budi dan adat istiadat yang ada di masyarakat Sunda. 

Ruang lingkup unsur-unsur dalam suatu budaya meliputi perilaku, gaya berpakaian, kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan dan tradisi. Dengan demikian kalau kita berbicara soal budaya Sunda tentu ruang lingkupnya sangat luas, dan pasti tidak selesai hanya dengan penjelasan satu atau dua halaman saja. Nah pada kesempatan ini, tentu hanya akan membahas sebagian kecil yang ada dalam budaya Sunda, yaitu yang berkaitan dengan karakter.

Karakter masyarakat Sunda yang khas ini seringkali manjadi jargon – jargon saat kampanye, sebagai metode jualan untuk meraih dan merangkul  suara dari masyarakat. Karakter yang mendasari karakter orang sunda adalah Cageur (sehat), Bageur (baik), Bener (jujur), Singer (waspada), dan Pinter (pintar). 

Cageur (sehat) bisa diterjemahkan sehat jasmani dan rohani, sehat badan dan pikiran, sehat di dalam berbuat dan bertindak, sehat untuk menjaga ucapan dan perbuatan. Bageur (baik), senantiasa mengasihi dan menyayangi terhadap sesama, bukan hanya pada manusia tetapi juga pada alam sekitar termasuk hewan dan tumbuhan. Keseimbangandan kelestarian alam harus benar – benar dijaga agar tercipta harmoni dengan alam semesta. Dalam keseharian hidupnya ramah, sopan, dan lemah lembut serta religius. Bener (jujur), tidak bohong, tidak khianat dan bisa menjaga amanat. Amanat itu mudah untuk diucapkan tetapi menjalankannya tidaklah mudah, meskipun sebelumnya pernah disumpah. Hidupnya tidak egois, tetapipeduli pada sesama sesuai dengan ajaran silih asah, silih asih jeung silih asuh. Singer (waspada) memiliki makna selalu mawas diri, mengerti dalam tugas dan kewajiban, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, menghormati dan menghargai perbedaan, dan toleran. Pinter (pintar/pandai), kaya dengan ilmu, keterampilandan perilaku. Bukan saja ilmu tentang keduniawian, tetapi juga ilmu sebagai bekal di akhirat kelak. Artinya ada keseimbangan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Jadi saripati ajaran Sunda ini tergambar dalam ajaran – ajaran pembentukan karakter yang bersumber dari ajaran agama.  Oleh karena itu, ajaran Sunda sesuai dengan ajaran Islam dan sejalan dengan nilai – nilai Pancasila. Dengan demikian maka pelestarian budaya Sunda menjadi sangat penting untuk dipahami dan diamalkan karena nilai – nilai tidak bertentangan dengan ajaran agama maupun ideologi Pancasila. (R/jalosi/red/er/dfa/oleh/Dede Farhan Aulawi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad